Undergoing MyBlogLog Verification
Add comment 11 Mei 2009
Ramai sekali berita pembunuhan Direktur PT Putera Rajawali Banjaran, Nasrudin, yang katanya menyeret Antasari Azhar, ketua KPK non aktif, menjadi tersangka sebagai otak pembunuhan. Sedangkan motifnya masih belum jelas, namun ada dugaan persoalan asmara dengan seorang perempuan berinisial RJ, kadi yang bekerja di lap. Golf Modernland Tangerang.
Nasrudin dan keluarganya, tentu saja, harus mendapatkan keadilan dari hukum yang berlaku di Indonesia. Demikian pula dengan Antasari.
Menanggapi kasus ini, aku adalah salah seorang yang akan sangat bersedih bila Antasari terbukti bersalah, apalagi jika terbukti bahwa dia adalah otak dari pembunuhan itu. Namun demikian, aku berharap KPK tidak melulu bergantung pada Antasari.
Prestasi Antasari di KPK sangat bagus dan banyak orang yang suka dan berharap padanya. Tapi di sisi lain, banyak juga orang yang benci padanya, terutama orang-orang yang tidak menyetujui perjuangannya dalam memberantas korupsi.
Entahlah sebetulnya apa yang terjadi. Katanya, Nasrudin dibunuh oleh para pembunuh yang profesional. Tapi di mataku, para pembunuh itu adalah orang-orang bodoh yang tidak profesional. Mirip preman jalanan. Asal bunuh saja sehingga gampang terungkap, gampang tertangkap. Jangankan ratusan juta, buatku gratis pun aku tak sudi kalau harus menyuruh mereka.
Sekedar membunuh itu gampang. Yang sulit itu bagaimana membunuh tanpa tertangkap. Jika kamu menyuruh aku untuk membunuh orang, apa kamu ingin aku tertangkap? Tentu tidak kan. Jika aku tertangkap, maka kamu juga akan tertangkap.
Masalahnya dengan Antasari. Apa betul ia begitu bodoh, menyuruh orang-orang tolol melakukan pembunuhan? Katanya, ia terlibat skandal dengan RJ dan tak ingin kasus ini di-blow up oleh Nasrudin. Kenapa ia begitu bodoh? Padahal, ia lama berpengalaman di pengadilan dan di KPK sendiri jadi ketua. Ia sudah paham benar akan bukti-bukti. Apa betul ia setolol itu?
Aku tak tahu apa yang terjadi. Bagiku, jika Antasari otaknya, kasus ini terlalu gampang dipecahkan dan terlalu mudah mengarah padanya. Jika Antasari otaknya, sungguh mengherankan bagaimana orang sebodoh ini bisa menjadi ketua KPK yang terhormat, yang harus membongkar kejahatan para koruptor berdasarkan bukti-bukti yang meyakinkan.
Kepada kerabat dan keluarga korban. Saya turut berduka cita atas meninggalnya Sdr. Nasrudin. Seperti Anda, saya setuju Antasari dihukum setimpal jika terbukti bersalah.
Sekarang belum jelas siapa yang bersalah. Status Antasari pun masih dipertanyakan, sebagai saksi atau tersangka. Semoga kebenaran akan menampakkan dirinya di mata kita semua.
-0-
7 comments Tagged: true story 3 Mei 2009
Ini cerita seorang tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sebuah restoran di Las Vegas. Katanya, daging bebek itu sekarang lagi trendy. Bukan cuma di Indonesia, tetapi juga di negara lain.
Suatu hari ia harus melayani tamu yang fanatik. Orang Amerika yang menginginkan daging bebek yang berasal dari Long Island. Sang TKI kebingungan untuk membedakannya.
“Bawa saja ke sini bebek yang masih hidup,” kata Orang Amerika dalam bahasa Inggris. “Gampang dibedakan.”
Sang TKI menurut. Ditangkapnya seekor lalu diserahkannya pada Orang Amerika. Si Orang Amerika kemudian memeriksanya dengan cara yang unik. Ia memasukkan jari kelingkingnya pada anus bebek, persis seperti orang tua kita memastikan ayam sudah mau bertelur atau belum.
“Ini bebek Shang Hai,” katanya. ” Bukan bebek Long Island. Coba ambil lagi satu.”
Kembali, sang TKI menurut. Beberapa kali gagal. Baru ketujuh kali, sang TKI berhasil menemukan bebek Long Island.
“Nah, ini baru bebek Long Island.” Si Orang Amerika tampak gembira, mengamati sang TKI lalu menyambung ucapannya. “Omong-omong, kamu dari Asia ya?”
“Betul,” jawab sang TKI.
“Tepatnya dari mana? Bangkok?” tanya Orang Amerika.
Dengan kesal, sang TKI membuka celananya, membelakangi Orang Amerika lalu nungging.
“Coba tebak,” katanya. “Dari mana asalku?”
-0-
3 comments Tagged: humor 1 Mei 2009
Jangan kaget dan jangan sedih jika kita menjadi bangsa yang miskin. Itu dampak yang timbul karena perilaku kita yang tidak menyadari bahwa hidup kita diprogram oleh orang lain. Itu juga dampak yang timbul karena perilaku kita yang tidak ramah dan sangat melecehkan alam.
Kita diprogram untuk menjadi konsumen dan menjadi orang yang sangat bergantung pada orang lain dan pada benda-benda yang berada di luar diri kita.
Hasrat kita, rasa takut kita dibangkitkan sebesar-besarnya dan dimanfaatkan orang lain demi keuntungan mereka. Kita digiring memasuki mimpi-mimpi yang menyesatkan, tanpa kita menyadari bahwa kita tersesat.
Buktinya? Begitu gencar iklan dan propaganda menyerbu kita. Bahaya jika kita tidak memiliki filter. Mereka berusaha membuat kita percaya bahwa kita tampak jelek, bodoh, bau, ketinggalan jaman jika kita tidak memakai produk yang mereka tawarkan. Dan banyak di antara kita yang sangat terpengaruh, lalu kita menggadaikan hidup dan masa depan kita.
Oleh karena kekurangan uang, padahal keinginan begitu menggelora dan sulit untuk dibendung, kita mencari cara untuk memuaskan nafsu. Dan mereka tahu persis apa yang kita perlukan. Meluncurlah program-program kredit dengan bunga yang mencekik. Dan kita begitu welcome, menganggapnya sebagai dewa penolong. Akibatnya, kita yang miskin akan semakin miskin karena jeratan utang.
Pada umumnya kita ini malas, terutama malas berpikir, kurang peduli terhadap orang lain dan tidak menghargai alam. Sering aku malu untuk menyatakan bahwa aku warga negara Indonesia yang baik dan cinta tanah air. Sementara perbuatanku sendiri jauh dari itu.
Alam Indonesia ini begitu kaya. Di negeri lain yang sedikit cahaya matahari, seperti Jepang, orang begitu serius memanfaatkan cahaya matahari sebagai sumber energi. Sementara di kita, siapa yang peduli? Padahal negeri kita sangat kaya dengan cahaya matahari, salah satu anugerah dari Tuhan yang selama ini belum kita manfaatkan dengan maksimal.
Meskipun negeri kita ini sudah lama memiliki masalah kekurangan energi, siapa yang mau peduli dengan cahaya matahari? Para pengusaha besar kelihatannya lebih suka bikin pabrik makanan, minuman, permen, kosmetik dan obat-obatan. Padahal jumlahnya sudah sangat banyak. Untuk permen, kamu tahu berapa merk permen yang beredar di Indonesia? Tidak tahu? Sama!
Mereka bikin pabrik atau memasarkan produk-produk itu tentu dengan pertimbangan yang cukup matang. Mereka kan tak mau rugi sehingga tak mau mengambil resiko tinggi. Lebih baik mengeksploitasi hasrat dan ketakutan manusia. Soal energi, biar orang lain yang memikirkannya.
Menurut mereka, mungkin kita ini masyarakat yang amat doyan ngemil, sehingga dijejalilah kita dengan makanan dan minuman yang jumlahnya nggak kehitung, berikut sampah yang dihasilkannya.
Dan untuk sakit kepala pun banyak sekali obatnya, juga kosmetik. Seperti enak karena banyak pilihan. Tapi sebenarnya lebih baik satu asal ampuh. Banyak membuat bingung memilih. Pakai bodrek, parameks, inza, decolgen atau apa? Saking bingungnya, akhirnya kubiarkan sakit kepalaku berlalu dengan sendirinya.
Dan ketika sakit kepalaku sudah berlalu, aku bisa melihat jelas betapa kita memperlakukan alam ini dengan tidak ramah. Hutan kita gunduli. Gunung kita pangkas secara sembrono. Tanah kita gali sehingga meninggalkan kubangan yang besar.
Sampah kita buang seenaknya. Mungkin karena pemikiran yang keliru, menganggap masalah sampah selesai setelah dibuang. Misalnya, ke jalan, ke got atau kali.
Tak terpikir atau mungkin tak peduli sampah itu akan membuat saluran air mampat dan pada akhirnya akan bertumpuk di hilir, yang berpotensi menimbulkan banjir. Siapa yang rugi? Berapa trilyun harta kekayaan yang hancur karena banjir? Aneh jika kita masih tak mau peduli.
Untuk urusan sampah ini, kadang aku malu. Sementara di Amrik orang sudah lama bicara soal perang bintang, kita yang mengaku bangsa yang santun dan beradab, masih bergumul dengan masalah sampah. Bahkan Presiden pun sampai ikut memikirkannya. Menyedihkan, tapi jangan sedih, walaupun hingga kini kita tidak punya program yang baik dan jelas untuk mengatasi persoalan sampah.
Ngeri sekali memikirkan perilaku kita. Betapa kita ini tak punya rasa terima kasih kepada Pemilik Alam, hidup lebih banyak didominasi oleh nafsu. Kita sangat melecehkan anugerah yang diberikan Tuhan. Bukan cuma alamNya yang kita cemari dengan limbah. Tapi tanah yang kita pijak pun kita lecehkan juga.
Jangan kaget jika kita merasakan dampak dari pelecehan ini. Kemiskinan yang tak kunjung usai. Coba bayangkan. Di negeri tercinta ini, masih banyak tanah sawah yang dihargai cuma 10.000, 20.000 sampai 30.000 perak per meter persegi. Kira-kira setara dengan sebungkus atau tiga bungkus Dji Sam Soe.
Apa kamu tidak menganggap bahwa itu merupakan sikap yang sangat keterlaluan? Pelecehan yang luar biasa terhadap anugerah yang diberikan Tuhan? Padahal tanah sumber kehidupan, satu meter persegi tanah jika diolah dengan baik, akan menghasilkan jauh lebih banyak dari itu. Sekali lagi, jangan kaget jika kita menjadi bangsa yang miskin.
Apa yang kita lakukan pada alam ini, khususnya tanah, air dan udara dan segala sesuatu yang hidup darinya, akan berdampak pada ekosistim. Demi kehidupan yang lebih baik, kita harus lebih bijaksana dan cerdas.
Seperti memenuhi kebutuhan rumah buat rakyat, daripada mengembangkan perumahan yang boros lahan seperti yang selama ini terjadi, kenapa nggak pilih yang hemat lahan? Seperti rumah susun. Bukan cuma hemat, tapi juga indah dan akan banyak lahan terbuka untuk penghijauan dan penyerapan air agar bumi ini tidak kering dan tandus.
Kita tak tahu apa rencana Tuhan terhadap diri kita. Tapi Tuhan membekali kita dengan pikiran. Sulit bagi kita untuk senantiasa menjadi orang yang baik dan benar. Tapi setidaknya Tuhan memberi kita kesempatan untuk belajar mengendalikan perilaku kita, belajar menjadi orang yang baik dan benar. Semoga…
-0-
4 comments 29 April 2009
Kupikir perempuan Indonesia saat ini sudah jauh lebih maju dari generasi Kartini. Sekarang sudah ada yang jadi anggota dewan, menteri bahkan jadi presiden sekali pun. Makanya, aku heran bila mendengar kesetaraan antara perempuan dan laki-laki masih saja dipersoalkan. Apakah laki-laki menghalangi perempuan untuk maju?
Laki-laki pasti setuju jika perempuan maju, jadi menteri atau presiden misalnya, apalagi jika perempuan itu adalah ibunya. Kalau nggak percaya, adakan survei. Kamu akan tahu apa yang kukatakan ini benar.
Laki-laki tidak lebih hebat dari perempuan meskipun secara fisik pada umumnya laki-laki lebih kuat. Kecuali dalam bidang olah raga seperti tinju, barangkali, aku yakin tak akan ada perempuan yang sanggup mengalahkan Mike Tyson. Tapi dalam bidang olah raga lainnya, misalnya bulu tangkis, aku sebagai laki-laki tak akan sanggup mengalahkan Susi Susanti.
Memang, menurut Islam laki-laki adalah imam atau pemimpin. Tapi jangan lupa. Islam juga mengatakan bahwa sorga ada di telapak kaki ibu. Jadi, siapa lebih unggul dari siapa?
Adanya peringatan setiap tanggal 21 April, maksudnya pasti baik asal tidak sekedar seremonial, apalagi jika cenderung mengarah pada hura-hura. Peringatan itu tentu untuk mengenang seorang perempuan, Kartini, yang hidup di Indonesia melampaui jamannya dan memperjuangkan kesetaraan kaumnya dengan laki-laki.
Pada saat itu keadaan kaum perempuan mungkin terbelakang dalam hal pendidikan. Jamannya memang seperti itu. Tak ada yang harus disalahkan.
Kartini yang bergaul dan terpengaruh oleh pola pikir orang Barat, merasa prihatin melihat keterbelakangan kaumnya. Tapi saat itu mungkin saja perempuan Indonesia pada umumnya merasa dirinya oke-oke saja, merasa puas dan bahagia hanya dengan mengurus suami dan membesarkan anak-anaknya.
Sekarang jaman sudah berubah dan akan terus berubah. Jika yang dipersoalkan adalah profesi atau karir yang lebih didominasi kaum lelaki, di masa depan mungkin saja keadaannya terbalik. Dominasi perempuan akan lebih kuat dari lelaki dalam setiap bidang kehidupan. Pada saat itu jika terjadi, maka akan ada orang seperti Kartini tapi laki-laki, yang menuntut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Sebenarnya, laki-laki dan perempuan memiliki kodratnya masing-masing.Tak perlu dipertentangkan. Yang pasti, keduanya saling melengkapi supaya kehidupan berjalan seperti adanya kini.
Seorang wanita karir tidak lebih baik dari seorang ibu rumah tangga, jika ia tak sanggup memelihara keharmonisan rumah tangganya. Sebaliknya seorang ibu rumah tangga akan menjadi wanita yang sangat mulia jika ia sanggup menghadirkan sorga bagi suami dan anak-anaknya.
Wahai, perempuan! Kamu rendah jika kamu tidak bisa menghormati dirimu. Lihat, lihatlah! Jaman ini memberimu peluang untuk maju. Lihatlah. Tidak ada yang menghalangimu. Kamu bisa mendaki setinggi-tingginya. Tapi jangan tinggalkan anak-anakmu. Itu sebabnya Tuhan menaruh sorga di bawah telapak kakimu.
-0-
6 comments 17 April 2009
| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Mei | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | 31 | |||||